search
  • 899C9B40-EBC5-4C20-A2F1-7E4E23B61F31.jpeg
  • A95C2833-E4F6-4999-BD5C-8ACBE5ECCB00.png
  • 9F830918-459C-49AD-BBC5-F5B99512C494.png
  • A8284800-1C5C-4A3E-9C4E-D82B372EC406.jpeg
  • 7E76E7C5-451D-402B-B88A-05131F4AC25B.png
  • 541B003A-CE53-411E-830A-026BBAE206A9.png
  • 32D29403-BE24-4D31-B94C-0608D1DCFA72.jpeg
  • 1E4C9B85-27E4-4A3B-835E-2E362B056F15.jpeg

Kita Sebelum Sebuah Lupa Suci Patia

RM 35.00
- +
cart Add to Cart
Home

“Kenapa?” “Kenapa apanya?” “Kenapa ngelihatin aja, tapi nggak bicara apa-apa?” Kami yang berhadap-hadapan, masing-masing mencari jawaban. Dari mata yang tak beralih, pada bibir yang mulai tersenyum. “Ya, ngelihatin aja. Aku senang lihat kamu,” jawabnya, membuat pipi pucatku berubah warna. “Titik nyaman tertinggiku ada pada matamu, bukan bibirmu,” sambungnya lagi. “Aku nggak ngerti.” “Maksudnya, kamu nggak perlu banyak bicara. Bahkan, dalam hening dan diam, melihatmu, aku bisa menemukan tenang.” Dan, entah berapa malam sejak percakapan itu, kami pun pergi. Berjalan di atas roda hidup sendiri-sendiri

Your cart is currently empty.

Continue shopping